Monday, July 27, 2015

Sebelas




Beberapa hari ini saya tidak bertemu dengannya, penghabisan akhir tahun saya tidak melihatnya. Tapi kemarin saya bertemu, di minggu pertama awal tahun ini, minggu pertama januari. Selesai mengajar les gitar di rumah murid saya di ampenan, saya ke pantai ampenan untuk menjaga taman baca seperti biasa. Sudah ada seorang teman saya disana, di taman baca kami mengobrol dan ketika itu saya mendengar bel sepeda ketika saya sedang asik membaca saya mendengarnya samar. Saya melihatnya dengan sepedanya seperti biasa, teman saya menyapanya, mungkin dia tidak melihat saya. Hanya sebentar seperti biasa di berlalu, mau ngopi dulu katanya. Matahari sedang akan tenggelam di laut pantai ampenan, indah sekali, saya selalu melihat langit kuning keemasan, gold sunset, dan betapa hangatnya, saya suka sekali perasaan ini. Kami akhirnya berkumpul bersama seperti biasa, saya melihatnya duduk di sana di ujung meja. Saya bertemu teman lama saya dan ternyata temannya juga, sesame petualang sepeda. Saya senang sekali bertemu dengan teman lama saya, dia tidak menyanka kalau saya juga mengenal temannya itu. Dia heran kenapa saya bisa mengenal temannya sesame petualang itu. Teman lama saya itu dulu pernah ikut seleksi pertukaran pemuda dan saya yang menyeleksinya, makanya dia sangat menghormati saya. Saya mengobrol banyak dengan teman lama saya itu karena banyak cerita yang ingin saya dengar darinya, tentang petualangannya sebagai tour leader, keliling Indonesia dengan para wisatawan Negara lain, pasti sangat menyenangkan, saya sedikit cuekin dia. Kami mengobrol banyak, saya memperlihatkan dia sebuah video biker terbaik dunia, Danny Macaskill, kami menonton videonya bersama dan saya cuekin dia. Saya mendengarnya samar ketika dia pindah duduk di depan saya dan menanyakan teman saya yang peremepuan, menanyakan kabarnya sudah lama tidak bertemu selama liburan akhir tahun. Dia mengatakan dia kangen, saya mendengarnya samar. Berapa lama ya kita tidak bertemu saya kangen, katanya. Ia kita juga kangen kata teman saya yang perempuan. Ia saya kangen, ada perasaan kangen dalm diri saya, katanya. Saya tidak terlalu memperhatikan karna saya asik dengan teman lama saya. Tapi saya mendengarnya cukup jelas karna ia di depan saya. Dia katakana ketika mengobrol dengan teman perempuan saya itu bahwa dia sedang belajar bahasa jepang, dia ingin ke jepang, dia dulu pernah bekerja dengan orang jepang dan sempat diajarkan bahasa jepang. Ketika tahun baru kemarin temannya dari jepang mengucapkan selamat tahun baru dalam bahasa jepang, tapi dia lupa bagaimana membalasnya dalam bahasa jepang juga. Dia banyak mengobrol dengan teman perempuan saya itu, saya banyak mengobrol dengan teman lama saya itu. Akhirnya sampai pada obrolan tentang jodoh, entah bagaimana dia menyinggung-nyinggung tentang jodoh. Dia menanyan teman saya yang perempuan umurnya berapa mungkin punya rencana menikah, tanyanya. Saya katakana kalau teman saya itu memang akan menikah dalam waktu dekat ini, teman saya mengiyakan. Sayang sekali katanya, karna dia sedang mencari pasangan. Teman saya mengatakan kalau dia sudah punya pacar dan akan menikah. Dia katakana dia tidak pacaran, dia mau langsung menikah. Itu ada kak nisa, kata teman saya, cocok itu katanya. Dia melihat saya, saya melihatnya. Kalian cocok, katanya. Dia menatapa saya terus, saya memalingkan wajah dan mengataka, menikah kapan? Saya mengajaknya sambil bercanda, dia tidak berkata dia hanya melihat saya. Dia katakana dia tidak pacaran, saya katakana juga saya tidak pacaran tapi langsung menikah. Dia menanyakan umur saya berapa, saya jawab umur saya 35, berbohong. Dia serius dia ingin tahu umur saya berapa, saya katakana 25, dia langsung bilang pas banget, dia mau menjodohkan saya dengan seorang sahabtnya yang memang sedang mencari istri. Sahabat yang seperti saudaranya sendiri, katanya. Dia tidak akan menikah kalau sahabatnya itu belum menikah, karna ia sudah berjanji pada ibu sahabatnya. Saya sedikit kecewa, kenapa dia menjodohkan saya dengan sahabtnya? Saya sedih. Kenapa dia mengatakan itu seolah dia tidak tau apa yang saya rasakan terhadapnya, saya sedang melihatnya selama ini, tapi mengatkan hal-hal yang sangat mengecewakan saya. Saya katakana saya dan temannya itu seperti saudara kembar karna kami memiliki hari ulang tahun yang sama. Saya bermaksud menolak secara halus, saya tidak memiliki perasaan apapun kepada temannya itu, tidak ada yang istimewa. Saya jauh lebih dulu mengenal temannya itu sebelum mengenalnya. Iya saya kecewa. Saya katakana kalau saya memang ingin menikah. Akhir-akhir ini saya berfikir tentang pernikahan, saya mulai serius tentang itu. Dulu saya berfikir kenapa ya orang ingin menikah? Dan setiap orang memilki alasan yang berbeda, jelas saya. Dan saat ini saya ingin menikah, kata saya. Dia mungkin sedikit terkesima dengan pembicaraan saya yang tulus, saya tulus mengatakan itu, saya ingin membuka diri saya. Entah apa alsannya menjodohkan saya dengan temannya, itu konyol sekali untuk saya. Dia sangat sayang sahabatnya, dia dulu sempat dipanggil chevron tapi susah memikirkan akan berpisah dengan temannya, dia kahirnya tidak jadi melihat chevron, mungkin jodoh saya di Lombok, katanya. Temannya juga susah merubah kebiasaan mereka tidak bersama, seperti ada sesuatu yang hilang katanya kalau mereka tidak bersama.
Kami mengobrol banyak tentang hubungan, dia katakana dulu dia pernah berpacaran dua kali dalam jangka waktu yang lama. Awalnya 3 tahun dan yang terakhir tujuh tahun, entah kenapa bisa putus, katanya. Saya selalu memposting foto senja dengan siluet orang-orang yang sedang pecaran dan sudah menikah, sangt berbeda, orang pacaran mesra sedangkan yang sudah menikah biasa saja, katanya. Dia tidak suka melihat orang yang memkai jilbab tapi justru bebas dengan laki-laki, saya orang liberal katanya, ia saya juga liberal, kata saya. Dia sedikit kaget dengan itu, dia mngira saya golongan orng-orang yang akan memakai cadar, saya katakana tidak, saya tidak seperti itu sama sekali, tapi saya selalu belajar tentang islam. Saya belajar filsafat, atheis, liberal, dan Al-Quran. Kami banyak berbicara tenang agama.
 
Dia sangat suka ketika melihat café saya dulu, dia dulu punya rencana untuk membangun uasaha seperti itu, penuh dengan tumpukan buku, tapi dia berfikir dia tidak terlalu suka kopi, dia tidak bisa membangun warung kopi kalau dia sendiri sedang mengurangi minum kopi. Dia tertarik dengan usaha saya, kenapa dia menawarkan saya untuk menyambut mimpinya yang belum terwujud itu, dia sedikit malu mengatakan itu, saya tersenyum saja melihatnya, orang ini konyol fikir saya, tidak bisa ditebak, apa yang ada dalam hatinya? Apa yang ada dalam fikirannya? Kenapa dia menceritakan impiannya itu dan menawarkan itu kepada saya beberapa kali dan saya masih belum bisa meresponnya karna tidak menyangka ia akan menawarkan itu, bekerja sama dengannya membangun mimpinya itu, mimpi ibunya itu ingin membuat usaha tradisional dan mendidik. Di tempat saya bukunya banyak sekali katanya, buku milik ayah saya, buku-buku tentang teknik, dia suka membaca semua buku itu. Ini sungguh aneh, fikir saya. Dia orang yang unik dana aneh. Dia terlihat ingin sekali mengajak saya benyambut tawarannya itu, dia benar-benar ingin membangun usaha itu atau ada hal lain dalam fikirannya, ingin selalu menjalin hubungan dengan saya? Entahlah, sesuatu seperti dia ingin selalu berurusan dengan saya, saya sedikit aneh dengan perasaan ini. Perasaan aneh ini seperti sebuah tawaran dia ingin mengenal saya, saya tidak melihat dia ingin mengajak saya bekerja sama dalam usahanya itu, itu sama sekali tidak terlihat begitu, usaha yang dalam bayangannya itu adalah usaha keluarga, usaha yang akan dibuatnya nanti ketika dia sudah berkeluarga, dia menyebut kata ibunya yang suka memasak, dia yang suka masakan traditional, dan jajanan traditional, dia yang suka buku-buku, entahlah, saya melihatnya seperti itu. Apa maksudnya? Itu usaha yang melibatkan keluarganya, kenapa dia menginginkan saya bergabung bersama? Saya merasa dia belum mengenal saya, saya belum mengenalnya. Apa saya salah merasakan selama ini? Apakah ketertarikannya kepada saya karna alasan rencana yang belum terwujud itu, usaha keluarga? Dia mengatakan kepada saya kenapa tidak membuat uasah di dekat amikom? Dimana itu saya bingung? Di sekitar rumahnya mungkin, rumahnya di sekitar itu katanya. Yang saya tahu di situ ada sebuah hotel kecil, hotel keluarga dan tidak ada rumah, apa dia pemilik hotel itu? Apa rumahnya di situ? Mungkin saja, dia bilang hotel kurnia jaya, disitu temapat buku-bukunya banyak tersimpan. Jalan fikirannya yang ribet dan aneh.  Buku-buku ayah saya yang menumpuk, katanya. Kalau mau saya menawarkan usaha bersama, katanya bbeberapa kali dengan nada yang malu-malu seperti menurunkan gengsinya, nada yang tidak serius untuk sebuah usaha bisnis. Saya tahu seperti apa orang yang serius mengajak saya berbisnis, bukan malu-malu seperti ini dan menceritakan banyak rencana dalam hidupnya. Saya hanya tersenyum, tidak bisa menolak dan menerima dengan lasan usaha keluarga yang samar-samar, saya sangat menghargai dia percaya kepada saya.

Sepuluh




Hari ini hujan deras sekali, saya kira tidak akan berhenti sampai sore. Tapi syukurlah langit sore mulai terang dan saya bersemangt membuka taman baca. Ramai sekali dan anak-anak sedang antusiasnya bermain, banyak yang berkelahi dan menangis. Saya kewalahan juga sampai bolpoin saya patah karena dimainkan anak-anak. Saya sedang mencatat buku yang sedang akan dipinjam ketika itu dia datang ke taman baca dan membunyikan bel  sepedanya keras-keras. Saya menoleh, saya tidak menyangka dia akan menyapa saya di taman baca, dia tak pernah melakukannya. Saya melihat dia begitu bersemangat sampai ngosngosan memegang dadanya dan tersenyum kea rah saya. Saya lambaikan tangan sebentar dan kembali mencatat buku yang akan dipinjam, anak-anak ramai sekali mengerubungi saya. Dia pergi. Saya fikir dia tidak akan datang sore ini karena ada kegiatan katanya kemarin.
Setelah taman baca tutup saya berkumpul dengannya bersama teman-teman yang lain di warung biasa kami berkumpul. Saya tidak banyak berkata karena jarak kami jauh. Dia banyak bercerita tentang hal-hal yang dilakukannya dulu bersama seorang teman yang sudah dia anggap lebih dari keluarga sendiri. Saya ingin mendengarnya bercerita, dia bukan orang yang akan membicarakan kejelekan orang. Kami ngobrol santai, akhirnya kami dalam posisi duduk berseblahan. Dia sering bernyanyi-nyanyi kecil dari beberapa hari kemarin. Liriknya tentang seorang gadis pendiam yang meragukan cintanya, harapannya bisa bersanding dengan gadis itu di pelaminan. Entahlah itu lagu siapa, saya baru pertaman kali mendengar lirik seperti itu. Saya tanyakan itu lagu siapa, dia hanya bilang kalau dia suka menyanyikan lagi-lagu lama. Tapi kenapa liriknya pas sekali untuk saya; gadis pendiam dan kalem. Kami pulang bersama, gerimis mulai turun.
Ketika saya berkemas memakai tas saya, dia menyebut-nyebut nama saya. Saya tidak mendengarnya jelas, seorang teman saya yang seperti adik saya sendiri sedang bermanja-manja dengannya, merangkul tangannya dan menyenderkan kepala di lengannnya. Dia katakana kepada teman saya bahwa sifat manja dan mesranya itu pasti hasil didikan saya, katanya keras-keras. Apa? Apa maksudnya? Saya bukan tipe manja dan kekanak-kanakan. Dia tidak akan tahan tidak menggoda saya setiap kali bertemu. Tapi saya katakana iya memang benar karena dia seperti adik saya. Kami berjalan bersama sepanjang terotoar di sisi pantai, dia dengan sepedanya di belakang saya sambil bernyanyi, “hai gadis cantik jangan kau ragu akan cintaku”. Apa? Itu lagu apa lagi? Memangnya ada lagu yang liriknya begitu? Teman saya yang perempuan itu bilang terimakasih sudah memanggilnya gadis cantik. Saya katakana jangan percaya, dia laki-laki penggoda wanita, ucap saya keras.

Sembilan




Dia menyapa saya ketika mata hari sudah tenggelam dan menyisahkan warna kemerahan. Saya duduk di sampingnya, dia merasakan keberadaan saya di sampingnya. Terasa sekali, dia tidak mengabaikan saya dan sesekali membuat alur pembicaraan yang nyambung dengan teman-temannya yang lain. Mereka berbicara tentang bersepeda dan snorkeling.
Saya solat seperti biasa, lalu kembali duduk di sampingnya. Awalnya kami mengobrol tentang rokok. Dia sedang merokok saat itu, saya menyinggungnya, dan dia mengerti perasaan saya, dia mematikan rokoknya. Kebanyakan perempuan yang terkena kangker rahim itu suaminya perokok. Asap rokok 3 kali lebih berbahaya untuk perokok pasif, kata saya. Dia katakana kalau baru-baru kemarin dia mengadakan seminar tentang kangker mulut rahim, kangker serviks. Dia katakana kalau dia orang kesehatan, dan dia jelaskan beberapa hal tentang itu. Saya Tanya dia dulu kuliah dimana? Dia menerangkan dulu dia kuliah radiografi dan fisioterapi. Dia banyak ambil kuliah pendek tentang gizi dan kesehatan keselamatan kerja yang saat ini sedang dalam pmbelajarannya. Dia jelaskan tentang radiografi dan pertambangan yang dulu pernah dipelajari di Kalimantan. Dia ingin bekerja di chevron, waktu itu pernah ada panggilan, katanya. Tapi orang tuanya tidak mengijinkan. Gaji di chevron bisa membahayakan, bisa membuat orang kalap, terangnya. Saya banyak mendengar saja, dia ceritakan tentang bahayanya nuklir, pertambangan dan pengeboran minyak.
Lumayan rame malam itu, banyak teman yang datang dan saya tidak mengenalnya. Teman yang lain banyakk yang mengajaknya berbicara. Saya biarkan dia berbicara sejenak dengan temannya, dan saya asik menikmati gitar yang sedang dimainkan seorang teman. Seorang teman saya menelpon, teman saya itu datang untuk mengambil buku doraemon. Dia kaget ketika melihat teman saya itu, dia tadi sempat menyapanya ketika bersepeda sejenak di depan. Dia tidak menyangka kalau itu teman saya, dan dia mendengar saya menelpon tadi sebelum teman saya itu melihat saya. Ketika saya selse menelpon, dia baru menyadari “jangan-jangan yang ditelpon itu cewek yang saya sapa tadi”, katanya.
Ujung-ujungnya kami bernyanyi diiringi gitar. Banyak lagu yang ingin kami nyanyikan, semua ingin menyanyikan lagu kesukaanya.  Termasuk dirinya. Gimana kalau menyanyikan lagu kesukaan saya, dia menawarkan.  Dia menyanyikan lirik awalnya, dia mengajak saya duet berdua lagu itu. Saya tebak lagu itu Endless Love. Dia mengajak saya berduet? Saya mengiyakan. Kami menyanyikan lagu itu bersama yang lain juga. Kenapa dia ingin menyanyikan lagu itu berdua dengan saya? Nada suaranya ketika mengajak saya itu terdengar biasa dan normal, tapi bukan nada yang menggoda dan sungkan. Saya suka lagu itu, sering saya nyanyikan. Kami banyak bercerita setelah teman-teman yang lain satu-satu pulang. Obrolan yang ringan. Dia bercerita tentang dirinya yang sulit berangkat kerja pagi-pagi. Meskipun dia sering terlambat tetapitanggung jawab dan tugasnya tidak pernah terbengkalai.
Kami banyak bernyanyi dan dia harus pulang karena harus beristirahat, besok dia akan bersepeda. Dia tidak memberitahu di mana dia bekerja ketika saya mempertanyakan. Ketika dia sudah pergi saya menanyakan ke temannya dia kerja dimana. Katanya dia kepala radiografi di Rumah Sakit.

Delapan




Hari jumat, syukurlah tidak hujan meskipun langit berawan. Saya bisa ke taman baca ampenan, bertemu anak-anak dan buku. Mereka selalu memberikan saya energy positif, seperti perasaan sederhana dan tenang. Setelah itu saya ingin melihat senja, duduk di tempat biasa bersama dia di sana, dia yang selalu berada di sana dan senjanya. Situasinya masih kaku, ia menyapa saya, saya duduk duduk di samping teman saya yang lain, tidak tahu harus mengobrol apa, akhirnya saya asik sendiri dengan ipod teman saya yang lagu-lagunya koleksi blues favorite saya. Tidak ada obrolah hanya saya dan teman saya. Dia terlihat gelisah, bernyanyi-nyanyi kecil lagi tema cinta, entahlah, yang saya dengar liriknya ungkapan perasaan kepada perempuan. Dia berdiri dan duduk lagi. Kenapa gelisah sekali? Tanya teman yang lain kepadanya. Kegelisahan. Iya, saya bisa merasakan dia gelisah.
Asan magrib saya solat, ketika kembali lagi berkumpul ada kenalan baru, cewek sastra Jerman. Suka Rilke sama seperti saya, saya ngobrol asik dengannya. Lama-lama obrolannya jadi berat, sampai ke politik. Jangan sekali-kali ajak saya berdiskusi, saya bisa memberi kuliah satu semester, saya hali dalam hal ini. Saya berdiskusi dengannya, kami saling berbagi pemikiran-pemikiran kami. Dia keras kepala dan berprinsip, tapi mendengar juga dan setuju dengah pemikiran saya. Dia sedikit lepas control, emosinya terlihat ketika mendiskusikan ketidakadilan. Akhirnya setujuh ketika saya menjelaskan tentang krisis moral dan karakter. Makanya kita harus mendidik anak kita dari kecil, kata saya. Dia tersenyum mengalam dan mengiyakan. Maksud saya sih gitu, katanya tersenyum. Tersenyum pasrah? Saya merasa cukup menang.
Saya suka pertemuan, selalu ada manfaat, seperti malam itu berdiskusi dan sharing banyak hal. Besok saya harus bersepeda, katanya. Saya merasa bebas ketika saya bersepeda, kata saya. Saya ceritakan tentang Mas Sentot yang banyak berubah ketika mulai bersepeda, sepeda menggerakkan otot saraf. Dia ceritakan pengalamannya ketika bertemu Mas Sentot. Saya belum selesai bercerita sebenarnya tapi dia memotong, saya mendengarkan, saya memotong sedikit. TUnggu dulu saya belum selesai bercerita, katanya tegas. Saya sedikit kesal tapi saya mengalah. Dia bersemangat, ceritanya memang seru; ketika bertemu Mas Sentot dia mencium tangannya, Mas Sentot cuek aja. Tapi ketika orang lain datang dan mencium tangannya Mas Sentot malah gak mau, Cuma orang gila yang mencium tangan saya, katanya. Hahaha.. kesal saya hilang. Diskusi berlanjut tentang tes CPNS yang dari dulu memang bermasalah. Dia ceritakan tentang temannya yang smart banget tapi tidak lolos, yang malas-malas malah lolos. Saya katakana itulah system yang harus dirubah. Dia tidak suka system pemerintah, seandainya bisa dia ingin merubah semuanya. Dia memiliki kepedulian dan jiwa social yang tinggi, sulit ada orang yang bisa menghentikannya. Saya katakana perubahan butuh waktu lama. Sekarang kita bergerak membangun, 100 tahun berikutnya baru terbentuk peradaban baru. Karakter seseorang terbentuk dari kecil. Yang keras dari kecil sampai besarpun akan keas. Orang tua yang paling tahu siapa kita. Seorang teman menanyakan saya tentang warna kuning, kuning itu lambing kesederhanaan, jawab saya. Saya suka merah, saya bagaimana? Tanyanya lembut. Lembut? Kontras sekali dengan cara berdiskusinya tadi yang sedikit emosi. Apakah dia benar-benar ingin tahu jawabannya?
Merah artinya penuh gairah dan semangat, kata saya. Itu yang tidak saya punya, katanya. Merah itu teguh, keras kepala maksud saya. Dan yang lainnya tertawa. Saya dari kecil memang suka warna merah dank eras kepala dari kecil, orang lain sulit memahami saya, saya juga banyak berbeda dengan orang lain, katanya menceritakan. Prinsip hidup membuat orang jadi keras, kata saya.
Dia harus pulang, dia puas dengan diskusinya. Kita orang-orang yang penampilannya biasa, tapi sebenarnya luar biasa, katanya. Ia sering tidak percaya dengan orang-orang yang memujinya. Bainya biasa saja. Kritikan akan memotivasinya untuk jadi lebih baik lagi. Ia suka dipandang sebagai seorang yang biasa, hal itu memberi dia semangat untuk jadi yang terbaik. Ketemu hari senin ya, ucapnya. Dia akan merindukan diskusi ini, dia ingin bertemu lagi. Saya cukup puas malam itu.

Tujuh




Hari berikutnya saya ke pantai ampenan, membuka taman baca. Meskipun mendung, banyak juga anak-anak yang datang. Cuaca sedang tidak baik. Awan gelap, senja tidak terlihat, dan hujan mulai turun. Pantai begitu sepi, kenapa hati saya jdi sepi sekali? Saya berharap teman-teman yang lain juga datang. Tapi mungkin tidak, karena hujan semakin deras. Saya pulang ketika lampu jalan mulai menyala dan hujan mulai deras. Keesokan harinya juga hujan deras, saya tidak bisa ke taman baca. Saya mulai merasa sepi, dan merindukan perasaan hangat ketika berkumpul beberapa hari kemarin.
Namun akhirnya hari kemarin saya senang. Setelah café tutup tidak ada lagi tempat berkumpul, kahirnya semalam bisa berkumpul juga dengan yang lainnya yang beberapa hari ini tidak bertemu. Kami mengobrol banyak hal. Ada dia juga di sana di tempat yang berbeda sedang ramai berkumpul dengan temannya. Saya menyapanya danbersalaman, tapi duduk di tempat yang lain. Setelah mulai sepi, temannya pulang, dia kembali berkumpul bersama kami, duduk di belakang saya berteduh karena mulai hujan. Dia pendian tidak banyak berkata seperti hari kemarin ketika menggoda saya. Saya asik dengan teman yang lain dan tidak memeperhatikannya di belakang. Seorang temannya mengajak dia pulang, tapi dia sibuk sendiri seperti tidak mau pulang. Saya tidak menajaknya berbicara, dia tetap tidak mau beranjak juga untuk pulang. Sampai pada akhirnya dia tidak tahan juga tidak menggoda saya sedikit, saya pura-pura tidak mendengarnya ketika menyebut-nyebut nama saya. Saya asik dengan video yang sedang saya lihat, Misread dari King of Convenience yang paling saya suka, favorit saya. Dia tidak mau juga beranjak pulang, sampai temannya mengatakan mau pulang apa tidak?