Monday, July 27, 2015

Lima




Hari itu sangat melelahkan. Hari mengepak semua barang-barang di café. Ini hariterakhir berada di tempat ini. Sampai malam, malam minggu saya lupa. Selesai membereskan semuanya, saya dan teman ingin menghirup udara segar di pantai ampenan. Sudah lama sekali tidak ke sana, mungkin sudah hamper dua bulan. Malam minggu itu ramai sekali di pantai. Saya melihatnya duduk di sana, di tempat biasa kami berkumpul. Ada tempat duduk kosong tepat di depannya. Saya menyapanya, duduk di depannya.Dia memulai pembiacaraan, dia tahu saya habis packing. Dia bertanya apa saya sudah selesai packing, dia menawarkan bantuan mobilnya untuk mengangkut barang. Saya katakana saya sudah mengangkut semuanya dengan taxi. Entah siapa yang memulai duluan, kami mengobrol tentang banyak hal; fotografi, film, anak jalanan, banyak, sampai tentang adiknya yang gayanya rocker cuek jadi dosen pertanian. Dan kami ngobrol hanya berdua, dia hanya menceritakan itu kepada saya, seolah tidak menghiraukan teman yang lain, saat berbicara dia hanya melihat saya. Dia menceritakan banyak tentang dirinya, apa dia ingin saya tahu itu? Saya hanya ingin mendengarkannya, dia cukup terbuka, tapi untuk apa dia menceritakan tentang dirinya kepada saya, terutama tentang kegiatan sosialnya yang benar-benar seperti jiwa social saya. Saya terkesan? Tentu saja. Dia cukup keren dengan semua yang dilakaukannya. Saya tidak ingin cuekin teman yang lain juga, dari tadi kami mengobrol hanya berdua, dan teman yang lain tidak tertarik dengan apa yang kami obrolkan. Saya tidak memfokuskan diri saya ke dia seorang, saya mulaiberbicara dngan yang lain dan dia mulai sibuk dengan dunianya sendiri, gadgetnya. 

Malam minggu itu teman saya menelpon dari Jepang. Mungkin dia mendengar saya berbicara, saya asik sekali di telpon. Teman saya itu orang Sumbawa yang belum setahun ini tinggal di Jepang. Sedang musim dingin di sana, dan sebentar lagi akan turun salju. Dia menelpon saya, dia kangen Indonesia. Cukup lama saya mengobrol di telpon, tidak memperhatikan teman yang lain, termasuk dia. Mungkin suara saya sedikit keras karena suara teman saya di telpon sangat pelan butuh beberapa detik saya bru bisa medengar suaranya. Nama teman saya yang menelpon sama dengan namanya. Sesekali saya menyebut nama teman saya, dia menoleh, mungkin sedikit terganggu, entahlah, saya bersikap apa adanya. Samar-samar saya dengar, dia menanyakan temannya yang lain yang namanya juga sama seperti namanya, saya mendengar samar itu, saya yakin dia mendengar kata-kata yang saya ucapkan di telpon. Dia kahirnya pergi, menyalami saya ketika masih menelpon, saya sibuk dengan telpon saya dan tidak melihatnya. Ketika selesai menelpon saya baru sadar kalau dia sudah pergi, saya merasa sedikit tidak enak. Saya merasa tidak enak atau pergi sedih karena dia pergi? Apakah saya mengharapkan dia tetap berada di sana? Apakah saya ingin mendengar lagi dia bercerita tentang dirinya? Entahlah, tiba-tiba saya juga ingin pulang.

No comments:

Post a Comment