Hari itu sangat melelahkan. Hari mengepak semua
barang-barang di café. Ini hariterakhir berada di tempat ini. Sampai malam,
malam minggu saya lupa. Selesai membereskan semuanya, saya dan teman ingin
menghirup udara segar di pantai ampenan. Sudah lama sekali tidak ke sana,
mungkin sudah hamper dua bulan. Malam minggu itu ramai sekali di pantai. Saya
melihatnya duduk di sana, di tempat biasa kami berkumpul. Ada tempat duduk
kosong tepat di depannya. Saya menyapanya, duduk di depannya.Dia memulai
pembiacaraan, dia tahu saya habis packing. Dia
bertanya apa saya sudah selesai packing, dia menawarkan bantuan mobilnya untuk
mengangkut barang. Saya katakana saya sudah mengangkut semuanya dengan taxi.
Entah siapa yang memulai duluan, kami mengobrol tentang banyak hal; fotografi,
film, anak jalanan, banyak, sampai tentang adiknya yang gayanya rocker cuek
jadi dosen pertanian. Dan kami ngobrol hanya berdua, dia hanya menceritakan itu
kepada saya, seolah tidak menghiraukan teman yang lain, saat berbicara dia
hanya melihat saya. Dia menceritakan banyak tentang dirinya, apa dia ingin saya
tahu itu? Saya hanya ingin mendengarkannya, dia cukup terbuka, tapi untuk apa
dia menceritakan tentang dirinya kepada saya, terutama tentang kegiatan
sosialnya yang benar-benar seperti jiwa social saya. Saya terkesan? Tentu saja.
Dia cukup keren dengan semua yang dilakaukannya. Saya tidak ingin cuekin teman
yang lain juga, dari tadi kami mengobrol hanya berdua, dan teman yang lain
tidak tertarik dengan apa yang kami obrolkan. Saya tidak memfokuskan diri saya
ke dia seorang, saya mulaiberbicara dngan yang lain dan dia mulai sibuk dengan
dunianya sendiri, gadgetnya.
Malam minggu itu teman
saya menelpon dari Jepang. Mungkin dia mendengar saya berbicara, saya asik
sekali di telpon. Teman saya itu orang Sumbawa yang belum setahun ini tinggal
di Jepang. Sedang musim dingin di sana, dan sebentar lagi
akan turun salju. Dia menelpon saya, dia kangen Indonesia. Cukup lama saya
mengobrol di telpon, tidak memperhatikan teman yang lain, termasuk dia. Mungkin
suara saya sedikit keras karena suara teman saya di telpon sangat pelan butuh
beberapa detik saya bru bisa medengar suaranya. Nama teman saya yang menelpon
sama dengan namanya. Sesekali saya menyebut nama teman saya, dia menoleh,
mungkin sedikit terganggu, entahlah, saya bersikap apa adanya. Samar-samar saya
dengar, dia menanyakan temannya yang lain yang namanya juga sama seperti
namanya, saya mendengar samar itu, saya yakin dia mendengar kata-kata yang saya
ucapkan di telpon. Dia kahirnya pergi, menyalami saya ketika masih menelpon, saya
sibuk dengan telpon saya dan tidak melihatnya. Ketika selesai menelpon saya
baru sadar kalau dia sudah pergi, saya merasa sedikit tidak enak. Saya merasa tidak enak
atau pergi sedih karena dia pergi? Apakah saya mengharapkan dia tetap berada di
sana? Apakah saya ingin mendengar lagi dia bercerita tentang dirinya? Entahlah,
tiba-tiba saya juga ingin pulang.
No comments:
Post a Comment