" bayangkan sebuah hati terbuat dari bunyi bel sepeda di bawah langit senja."
Namanya Toyenk. Nama yang sangat jelek dan konyol. Pasti
orangnya juga jelek dan konyol. Pas pertama bertemu sudah bisa di tebak dari
namanya yang konyol itu, ini orang pastilah aneh. Kurus kerempeng seperti pohon
pinus di pinggiran hutan, coklat gosong terbakar matahari. Hanya saja pohon
pinus yang satu ini berkacamata minus, makin menambah keanehannya. Maksud saya,
ada juga orang yang gak matching seperti Abang yang jelek ini, biker,
potographer, diver, dan berkacamata minus. Barusan juga saya tahu kalau dia
bekerja di sebuah rumah sakit swasta sebagai radiographer. Aneh saja rasanya
membayangkan sebuah pohon pinus berada di ruangan sinar-sinar x atau apalah
orang menyebutnya. Sejujurnya sejak
mulai mengobrol dengannya saya merasa banyak perubahan yang terjadi, dan saya
sadari itu, saya banyak berubah. Dia pernah bilang dia sangat suka warna merah,
sejak saat itu saya selalu pakai baju merah ketika akan bertemu dengannya.
Khusunya ke pantai ampenan. Hampir setiap hari saya memakai baju merah, mungkin
lama-lama saya sudah menjadi perempuan berbaju merah pantai ampenan. Mulai hari
sejak saya tahu kalau dia juga sangat suka bersepeda, pagi harinya saya mulai
berolahraga. Maksudnya, saya tidak punya sepeda, sudah berkarat. Bukan sepeda
saya, tapi sepeda adik sepupu yang selalu saya pake dulu, tapi sekarang sepeda
itu sudah berkarat karena selalu terkena hujan, dibiarkan sendiri dibelakang
rumah. Maka saya berjalan kaki saja setiap harinya, setiap paginya,
mengelilingi kompleks rumah. Perubahan pada diri saya juga terjadi, di malam
hari tepatnya. Sejak saya tahu kalau setiap malam dia akan tidur jam 10, maka
saya juga mulai saat itu akan tidur jam 10, dan itu terus berlanjut setiap
hari. Dan hal paling gila yang pernah saya rasakan adalah, selalu deg-degan ketika
mendengar bunyi bel sepeda. Dimanapun itu-bunyi bel sepeda- akan selalu membuat
saya deg-degan. Saya membayangkan dia yang sedang mengendarai sepeda merahnya
yang super keren itu. Menghayal. Saya sudah jauh menghayal. Ibaratnya saya
sedang berenang dan sudah berenang terlalu jauh. Ini tidak boleh terjadi. Ini
aneh tapi nyata, setiap bunyi bel sepeda yang lewat di depan rumah, saya selalu
mengintipnya lewat gorden jendela dengan perasaan deg-degan berharap itu dia.
Ini hal paling gila sedunia. Mana mungkin dia akan bersepeda di sekitar
kompleks rumah, dia sama sekali tidak pernah datang. Ini adalah kegilaan paling
parah sedunia. Jangan sampai dia tahu kalu saya kangen sama pohon pinus-ikan
koi-jelek dan menyebalkan. Kalau sampai itu terjadi, saya rela dikutuk menjadi
gantungan kunci pintu perpustakaan pantai ampenan saja, benda kecil yang tetap
dibawa Lele ke pantai ampenan dan tidak terlihat.

No comments:
Post a Comment