Monday, July 27, 2015

sepotong sore




" bayangkan sebuah hati terbuat dari bunyi bel sepeda di bawah langit senja."

Namanya Toyenk. Nama yang sangat jelek dan konyol. Pasti orangnya juga jelek dan konyol. Pas pertama bertemu sudah bisa di tebak dari namanya yang konyol itu, ini orang pastilah aneh. Kurus kerempeng seperti pohon pinus di pinggiran hutan, coklat gosong terbakar matahari. Hanya saja pohon pinus yang satu ini berkacamata minus, makin menambah keanehannya. Maksud saya, ada juga orang yang gak matching seperti Abang yang jelek ini, biker, potographer, diver, dan berkacamata minus. Barusan juga saya tahu kalau dia bekerja di sebuah rumah sakit swasta sebagai radiographer. Aneh saja rasanya membayangkan sebuah pohon pinus berada di ruangan sinar-sinar x atau apalah orang menyebutnya.  Sejujurnya sejak mulai mengobrol dengannya saya merasa banyak perubahan yang terjadi, dan saya sadari itu, saya banyak berubah. Dia pernah bilang dia sangat suka warna merah, sejak saat itu saya selalu pakai baju merah ketika akan bertemu dengannya. Khusunya ke pantai ampenan. Hampir setiap hari saya memakai baju merah, mungkin lama-lama saya sudah menjadi perempuan berbaju merah pantai ampenan. Mulai hari sejak saya tahu kalau dia juga sangat suka bersepeda, pagi harinya saya mulai berolahraga. Maksudnya, saya tidak punya sepeda, sudah berkarat. Bukan sepeda saya, tapi sepeda adik sepupu yang selalu saya pake dulu, tapi sekarang sepeda itu sudah berkarat karena selalu terkena hujan, dibiarkan sendiri dibelakang rumah. Maka saya berjalan kaki saja setiap harinya, setiap paginya, mengelilingi kompleks rumah. Perubahan pada diri saya juga terjadi, di malam hari tepatnya. Sejak saya tahu kalau setiap malam dia akan tidur jam 10, maka saya juga mulai saat itu akan tidur jam 10, dan itu terus berlanjut setiap hari. Dan hal paling gila yang pernah saya rasakan adalah, selalu deg-degan ketika mendengar bunyi bel sepeda. Dimanapun itu-bunyi bel sepeda- akan selalu membuat saya deg-degan. Saya membayangkan dia yang sedang mengendarai sepeda merahnya yang super keren itu. Menghayal. Saya sudah jauh menghayal. Ibaratnya saya sedang berenang dan sudah berenang terlalu jauh. Ini tidak boleh terjadi. Ini aneh tapi nyata, setiap bunyi bel sepeda yang lewat di depan rumah, saya selalu mengintipnya lewat gorden jendela dengan perasaan deg-degan berharap itu dia. Ini hal paling gila sedunia. Mana mungkin dia akan bersepeda di sekitar kompleks rumah, dia sama sekali tidak pernah datang. Ini adalah kegilaan paling parah sedunia. Jangan sampai dia tahu kalu saya kangen sama pohon pinus-ikan koi-jelek dan menyebalkan. Kalau sampai itu terjadi, saya rela dikutuk menjadi gantungan kunci pintu perpustakaan pantai ampenan saja, benda kecil yang tetap dibawa Lele ke pantai ampenan dan tidak terlihat.

 

No comments:

Post a Comment