Monday, July 27, 2015

Delapan




Hari jumat, syukurlah tidak hujan meskipun langit berawan. Saya bisa ke taman baca ampenan, bertemu anak-anak dan buku. Mereka selalu memberikan saya energy positif, seperti perasaan sederhana dan tenang. Setelah itu saya ingin melihat senja, duduk di tempat biasa bersama dia di sana, dia yang selalu berada di sana dan senjanya. Situasinya masih kaku, ia menyapa saya, saya duduk duduk di samping teman saya yang lain, tidak tahu harus mengobrol apa, akhirnya saya asik sendiri dengan ipod teman saya yang lagu-lagunya koleksi blues favorite saya. Tidak ada obrolah hanya saya dan teman saya. Dia terlihat gelisah, bernyanyi-nyanyi kecil lagi tema cinta, entahlah, yang saya dengar liriknya ungkapan perasaan kepada perempuan. Dia berdiri dan duduk lagi. Kenapa gelisah sekali? Tanya teman yang lain kepadanya. Kegelisahan. Iya, saya bisa merasakan dia gelisah.
Asan magrib saya solat, ketika kembali lagi berkumpul ada kenalan baru, cewek sastra Jerman. Suka Rilke sama seperti saya, saya ngobrol asik dengannya. Lama-lama obrolannya jadi berat, sampai ke politik. Jangan sekali-kali ajak saya berdiskusi, saya bisa memberi kuliah satu semester, saya hali dalam hal ini. Saya berdiskusi dengannya, kami saling berbagi pemikiran-pemikiran kami. Dia keras kepala dan berprinsip, tapi mendengar juga dan setuju dengah pemikiran saya. Dia sedikit lepas control, emosinya terlihat ketika mendiskusikan ketidakadilan. Akhirnya setujuh ketika saya menjelaskan tentang krisis moral dan karakter. Makanya kita harus mendidik anak kita dari kecil, kata saya. Dia tersenyum mengalam dan mengiyakan. Maksud saya sih gitu, katanya tersenyum. Tersenyum pasrah? Saya merasa cukup menang.
Saya suka pertemuan, selalu ada manfaat, seperti malam itu berdiskusi dan sharing banyak hal. Besok saya harus bersepeda, katanya. Saya merasa bebas ketika saya bersepeda, kata saya. Saya ceritakan tentang Mas Sentot yang banyak berubah ketika mulai bersepeda, sepeda menggerakkan otot saraf. Dia ceritakan pengalamannya ketika bertemu Mas Sentot. Saya belum selesai bercerita sebenarnya tapi dia memotong, saya mendengarkan, saya memotong sedikit. TUnggu dulu saya belum selesai bercerita, katanya tegas. Saya sedikit kesal tapi saya mengalah. Dia bersemangat, ceritanya memang seru; ketika bertemu Mas Sentot dia mencium tangannya, Mas Sentot cuek aja. Tapi ketika orang lain datang dan mencium tangannya Mas Sentot malah gak mau, Cuma orang gila yang mencium tangan saya, katanya. Hahaha.. kesal saya hilang. Diskusi berlanjut tentang tes CPNS yang dari dulu memang bermasalah. Dia ceritakan tentang temannya yang smart banget tapi tidak lolos, yang malas-malas malah lolos. Saya katakana itulah system yang harus dirubah. Dia tidak suka system pemerintah, seandainya bisa dia ingin merubah semuanya. Dia memiliki kepedulian dan jiwa social yang tinggi, sulit ada orang yang bisa menghentikannya. Saya katakana perubahan butuh waktu lama. Sekarang kita bergerak membangun, 100 tahun berikutnya baru terbentuk peradaban baru. Karakter seseorang terbentuk dari kecil. Yang keras dari kecil sampai besarpun akan keas. Orang tua yang paling tahu siapa kita. Seorang teman menanyakan saya tentang warna kuning, kuning itu lambing kesederhanaan, jawab saya. Saya suka merah, saya bagaimana? Tanyanya lembut. Lembut? Kontras sekali dengan cara berdiskusinya tadi yang sedikit emosi. Apakah dia benar-benar ingin tahu jawabannya?
Merah artinya penuh gairah dan semangat, kata saya. Itu yang tidak saya punya, katanya. Merah itu teguh, keras kepala maksud saya. Dan yang lainnya tertawa. Saya dari kecil memang suka warna merah dank eras kepala dari kecil, orang lain sulit memahami saya, saya juga banyak berbeda dengan orang lain, katanya menceritakan. Prinsip hidup membuat orang jadi keras, kata saya.
Dia harus pulang, dia puas dengan diskusinya. Kita orang-orang yang penampilannya biasa, tapi sebenarnya luar biasa, katanya. Ia sering tidak percaya dengan orang-orang yang memujinya. Bainya biasa saja. Kritikan akan memotivasinya untuk jadi lebih baik lagi. Ia suka dipandang sebagai seorang yang biasa, hal itu memberi dia semangat untuk jadi yang terbaik. Ketemu hari senin ya, ucapnya. Dia akan merindukan diskusi ini, dia ingin bertemu lagi. Saya cukup puas malam itu.

No comments:

Post a Comment