Hari
jumat, syukurlah tidak hujan meskipun langit berawan. Saya bisa ke taman baca
ampenan, bertemu anak-anak dan buku. Mereka selalu memberikan saya energy
positif, seperti perasaan sederhana dan tenang. Setelah itu saya ingin melihat
senja, duduk di tempat biasa bersama dia di sana, dia yang selalu berada di
sana dan senjanya. Situasinya masih kaku, ia menyapa saya, saya duduk duduk di
samping teman saya yang lain, tidak tahu harus mengobrol apa, akhirnya saya
asik sendiri dengan ipod teman saya yang lagu-lagunya koleksi blues favorite
saya. Tidak ada obrolah hanya saya dan teman saya. Dia terlihat gelisah,
bernyanyi-nyanyi kecil lagi tema cinta, entahlah, yang saya dengar liriknya
ungkapan perasaan kepada perempuan. Dia berdiri dan duduk lagi. Kenapa gelisah
sekali? Tanya teman yang lain kepadanya. Kegelisahan. Iya, saya bisa merasakan
dia gelisah.
Asan
magrib saya solat, ketika kembali lagi berkumpul ada kenalan baru, cewek sastra
Jerman. Suka Rilke sama seperti saya, saya ngobrol asik dengannya. Lama-lama
obrolannya jadi berat, sampai ke politik. Jangan sekali-kali ajak saya berdiskusi,
saya bisa memberi kuliah satu semester, saya hali dalam hal ini. Saya
berdiskusi dengannya, kami saling berbagi pemikiran-pemikiran kami. Dia keras
kepala dan berprinsip, tapi mendengar juga dan setuju dengah pemikiran saya.
Dia sedikit lepas control, emosinya terlihat ketika mendiskusikan ketidakadilan.
Akhirnya setujuh ketika saya menjelaskan tentang krisis moral dan karakter.
Makanya kita harus mendidik anak kita dari kecil, kata saya. Dia tersenyum
mengalam dan mengiyakan. Maksud saya sih gitu, katanya tersenyum. Tersenyum
pasrah? Saya merasa cukup menang.
Saya
suka pertemuan, selalu ada manfaat, seperti malam itu berdiskusi dan sharing
banyak hal. Besok saya harus bersepeda, katanya. Saya merasa bebas ketika saya
bersepeda, kata saya. Saya ceritakan tentang Mas Sentot yang banyak berubah
ketika mulai bersepeda, sepeda menggerakkan otot saraf. Dia ceritakan
pengalamannya ketika bertemu Mas Sentot. Saya belum selesai bercerita
sebenarnya tapi dia memotong, saya mendengarkan, saya memotong sedikit. TUnggu
dulu saya belum selesai bercerita, katanya tegas. Saya sedikit kesal tapi saya
mengalah. Dia bersemangat, ceritanya memang seru; ketika bertemu Mas Sentot dia
mencium tangannya, Mas Sentot cuek aja. Tapi ketika orang lain datang dan
mencium tangannya Mas Sentot malah gak mau, Cuma orang gila yang mencium tangan
saya, katanya. Hahaha.. kesal saya
hilang. Diskusi berlanjut tentang tes CPNS yang dari dulu memang bermasalah.
Dia ceritakan tentang temannya yang smart banget tapi tidak lolos, yang
malas-malas malah lolos. Saya katakana itulah system yang harus dirubah. Dia
tidak suka system pemerintah, seandainya bisa dia ingin merubah semuanya. Dia
memiliki kepedulian dan jiwa social yang tinggi, sulit ada orang yang bisa
menghentikannya. Saya katakana perubahan butuh waktu lama. Sekarang kita
bergerak membangun, 100 tahun berikutnya baru terbentuk peradaban baru.
Karakter seseorang terbentuk dari kecil. Yang keras dari kecil sampai besarpun
akan keas. Orang tua yang paling tahu siapa kita. Seorang teman menanyakan saya
tentang warna kuning, kuning itu lambing kesederhanaan, jawab saya. Saya suka
merah, saya bagaimana? Tanyanya lembut. Lembut? Kontras sekali dengan cara berdiskusinya
tadi yang sedikit emosi. Apakah dia benar-benar ingin tahu jawabannya?
Merah
artinya penuh gairah dan semangat, kata saya. Itu yang tidak saya punya,
katanya. Merah itu teguh, keras kepala maksud saya. Dan yang lainnya tertawa.
Saya dari kecil memang suka warna merah dank eras kepala dari kecil, orang lain
sulit memahami saya, saya juga banyak berbeda dengan orang lain, katanya
menceritakan. Prinsip hidup membuat orang jadi keras, kata saya.
Dia
harus pulang, dia puas dengan diskusinya. Kita orang-orang yang penampilannya
biasa, tapi sebenarnya luar biasa, katanya. Ia sering tidak percaya dengan
orang-orang yang memujinya. Bainya biasa saja. Kritikan akan memotivasinya
untuk jadi lebih baik lagi. Ia suka dipandang sebagai seorang yang biasa, hal
itu memberi dia semangat untuk jadi yang terbaik. Ketemu hari senin ya,
ucapnya. Dia akan merindukan diskusi ini, dia ingin bertemu lagi. Saya cukup
puas malam itu.
No comments:
Post a Comment