Monday, July 27, 2015

Dua




Malam awal kami berkenalan di pantai ampenan, dia benar-benar datang ke café, bersama teman-teman yang lain juga. Ada yang ulang tahun, saya buatkan coklat hangat gratis bagi yang berulang tahun. Rame sekali, sudah tidak ada tempat duduk lagi, sudah tidak ada sisa gelas dan piring lagi. Saya sedang sibuk memasak pesanan pelanggan yang sedang rame-ramenya. Sepanjang waktu di dapur hampir jam 10 malam. Dia duduk di sana dan memesan beberapa; teh tanpa gula dan kentang tanpa garam. Mana ada orang yang memesan makanan seperti itu, pastilah dia orang paling aneh sedunia. Semua bahan makanan habis, sayang sekali. Padahal saya ingin sekali membuatkan untuknya spesial sesuai pesanannya yang paling aneh sedunia itu; kentang tanpa garam dan teh tanpa gula. Rame sekali yang memesan, rame sekali yang datang. Beberapa anak-anak SMA di depan cafe memang suka nongkrong di sini, strategi marketing yang cukup berhasil. Makanan yang testnya sebanding dari cafe-cafe yang lainnya dengan harga yang terjangkau untuk kantong anak sekolah dan tentu saja untuk kantong anak-anak kost. Dia tidak mendapatkan pesanannya, saya minta maaf. Sejak saya merasakan kehadirannya, meskipun saya tak sempat melihat bayangannyapun karena sedang sibuk mengaduk spageti, selama itu saya memikirkannya. Bukan fikiran yang aneh tapi fikiran yang sewajarnya seperti; dia duduk di kursi mana ya? Kira-kira dia nyaman gak ya berada di cafe? Dia suka gak ya dekorasi cafenya? Dan lain-lain, dan lain-lain. Ya ya .. fikiran yang sangat wajar, tapi kenapa terasa begitu amat pentingnya.
Sudah jam 10, café mulai sepi, pelanggan sudah banyak yang pulang. Saya bereskan dapur dan menghampirinya. Menghampirinya? Rasanya sudah saejak tadi saya sudah tidak sabar ingin segera keluar dan menghampirinya. Gawat. Kenapa saya harus menghampirinya? Saya hanya duduk di depannya, lelah sekali saya tidak banyak berkata. Dia suka kentang dan tehnya, rasanya enak, katanya. Saya yang tidak enak karena pesanannya habis.
Dia pulang duluan meninggalakn teman-temannya. Sudah jam 11 saya ngantuk sekali, tidak enak mengusir teman-teman yang sedang asik-asiknya. Dia pergi, saya mengantarnya ke dapan. Dia membawa mobil jip biru tua yang terang. Saya teringat mobil itu tadi di parkir di pantai ampenan. Waktu akan solat magrib, saya lihat lihat mobil itu. Saya katakana pada seorang teman, ini mobil sangat keren untuk petualang, tapi teman saya tidak terlalu memperhatikan.
Dia katakana rumahnya dekat sini, tiap hari dia pasti melewati jalan ini. Saya katakana mampirlah kapan-kapan.

No comments:

Post a Comment