Malam
awal kami berkenalan di pantai ampenan, dia benar-benar datang ke café, bersama
teman-teman yang lain juga. Ada yang ulang tahun, saya buatkan coklat hangat
gratis bagi yang berulang tahun. Rame sekali, sudah tidak ada tempat duduk
lagi, sudah tidak ada sisa gelas dan piring lagi. Saya sedang sibuk memasak
pesanan pelanggan yang sedang rame-ramenya. Sepanjang waktu di dapur hampir jam 10 malam. Dia
duduk di sana dan memesan beberapa; teh
tanpa gula dan kentang tanpa garam. Mana
ada orang yang memesan makanan seperti itu, pastilah dia orang paling aneh sedunia.
Semua bahan makanan habis, sayang sekali. Padahal saya ingin sekali membuatkan
untuknya spesial sesuai pesanannya yang paling aneh sedunia itu; kentang tanpa
garam dan teh tanpa gula. Rame sekali yang memesan, rame sekali yang datang.
Beberapa anak-anak SMA di depan cafe memang suka nongkrong di sini, strategi
marketing yang cukup berhasil. Makanan yang testnya sebanding dari cafe-cafe
yang lainnya dengan harga yang terjangkau untuk kantong anak sekolah dan tentu
saja untuk kantong anak-anak kost. Dia tidak mendapatkan pesanannya, saya minta
maaf. Sejak saya merasakan kehadirannya, meskipun saya tak sempat melihat
bayangannyapun karena sedang sibuk mengaduk spageti, selama itu saya
memikirkannya. Bukan fikiran yang aneh tapi fikiran yang sewajarnya seperti;
dia duduk di kursi mana ya? Kira-kira dia nyaman gak ya berada di cafe? Dia
suka gak ya dekorasi cafenya? Dan lain-lain, dan lain-lain. Ya ya .. fikiran
yang sangat wajar, tapi kenapa terasa begitu amat pentingnya.
Sudah jam 10, café mulai sepi, pelanggan sudah banyak
yang pulang. Saya bereskan dapur dan menghampirinya. Menghampirinya? Rasanya
sudah saejak tadi saya sudah tidak sabar ingin segera keluar dan
menghampirinya. Gawat. Kenapa saya harus menghampirinya? Saya hanya duduk di
depannya, lelah sekali saya tidak banyak berkata. Dia suka kentang dan tehnya,
rasanya enak, katanya. Saya yang tidak enak karena pesanannya habis.
Dia pulang duluan meninggalakn teman-temannya. Sudah jam
11 saya ngantuk sekali, tidak enak mengusir teman-teman yang sedang
asik-asiknya. Dia pergi, saya mengantarnya ke dapan. Dia membawa mobil jip biru
tua yang terang. Saya teringat mobil itu tadi di parkir di pantai ampenan.
Waktu akan solat magrib, saya lihat lihat mobil itu. Saya katakana pada seorang
teman, ini mobil sangat keren untuk petualang, tapi teman saya tidak terlalu
memperhatikan.
Dia katakana rumahnya dekat sini, tiap hari dia pasti
melewati jalan ini. Saya katakana mampirlah kapan-kapan.
No comments:
Post a Comment