Mungkin
saya menunggunya. Mungkin. Saya juga belum yakin dengan perasaan saya. Ini masih dalam tahap tidak yakin. Dia
sedikit berbeda dengan orang lain, dia punya gayanya sendiri. Dia cuek tapi
sebenarnya memperhatikan, dia rame tapi sebenarnya hatinya sepi, saya menatap
wajahnya yang binar tapi sebenarnya sendu. Dia tidak datang lagi, saya tidak
menunggunya lagi, kesibukan membuat saya lupa sejenak. Tidak ada perasaan kehilangan, tidak, saya belum merasa
memiliki.
Hari-hari berlalu, saya tidak pernah ke pantai, mungkin
saya tidak memikirkan dia lagi, seperti saya tidak lagi memikirkan pantai
ampenan. Suatu malam saya harus mengajar les privat di ampenan. Saya mampir
dulu ke taman malomba. Saya dan teman satu
komunitas pemuda sukarelawan sedang penggalangan dana menjual baju bekas. Saya
hanya sebentar di sana dan harus pamit untuk mengajar. Saya ucapkan sampai
ketemu besok, saya tidak akan kembali ke taman malomba, saya harus balik ke
rumah. Samapi di tempat
mengajar tiba-tiba mati lampu. Kelas ditunda besok. Saya
sebenarnya berencana pulang, saya capek sekali, saya tidak ingin balik ke taman
malomba. Tapi kenapa firasat saya mengatakan saya harus ke sana. Hati saya
berkata pergilah ke sana, tapi tubuh saya capek sekali. Kenapa saya harus
kesana? Pikir saya. Apakah Tuhan sedang merencanakan sesuatu? Hati saya mengtakan
pergilah ke sana.
Dalam
perjalanan ke sana otak saya berfikir, saya sudah mengucapkan selamat tinggal,
yidak mungkin saya akan kembali ke sana lagi. Kaki saya terus berjalan, sampai
di sana semua heran, kenapa saya kembali?
Taka
lam dia datang, berjalan lalu menyapa. Apakah Tuhan menuntun saya ke sana agar
bertemu dengannya? Pikir saya belum mengerti.
No comments:
Post a Comment