Monday, July 27, 2015

Tiga




Mungkin saya menunggunya. Mungkin. Saya juga belum yakin dengan perasaan saya. Ini masih dalam tahap tidak yakin. Dia sedikit berbeda dengan orang lain, dia punya gayanya sendiri. Dia cuek tapi sebenarnya memperhatikan, dia rame tapi sebenarnya hatinya sepi, saya menatap wajahnya yang binar tapi sebenarnya sendu. Dia tidak datang lagi, saya tidak menunggunya lagi, kesibukan membuat saya lupa sejenak. Tidak ada perasaan kehilangan, tidak, saya belum merasa memiliki.
Hari-hari berlalu, saya tidak pernah ke pantai, mungkin saya tidak memikirkan dia lagi, seperti saya tidak lagi memikirkan pantai ampenan. Suatu malam saya harus mengajar les privat di ampenan. Saya mampir dulu ke taman malomba. Saya dan teman satu komunitas pemuda sukarelawan sedang penggalangan dana menjual baju bekas. Saya hanya sebentar di sana dan harus pamit untuk mengajar. Saya ucapkan sampai ketemu besok, saya tidak akan kembali ke taman malomba, saya harus balik ke rumah. Samapi di tempat mengajar tiba-tiba mati lampu. Kelas ditunda besok. Saya sebenarnya berencana pulang, saya capek sekali, saya tidak ingin balik ke taman malomba. Tapi kenapa firasat saya mengatakan saya harus ke sana. Hati saya berkata pergilah ke sana, tapi tubuh saya capek sekali. Kenapa saya harus kesana? Pikir saya. Apakah Tuhan sedang merencanakan sesuatu? Hati saya mengtakan pergilah ke sana.
Dalam perjalanan ke sana otak saya berfikir, saya sudah mengucapkan selamat tinggal, yidak mungkin saya akan kembali ke sana lagi. Kaki saya terus berjalan, sampai di sana semua heran, kenapa saya kembali?
Taka lam dia datang, berjalan lalu menyapa. Apakah Tuhan menuntun saya ke sana agar bertemu dengannya? Pikir saya belum mengerti.

No comments:

Post a Comment