Monday, July 27, 2015

Empat


Beberapa waktu berikutnya dia datang ke café beberapa kali bersama teman yang lain. Beberapa kali itu dia hanya ingin minum air putih. Waktu itu saya diwawancarai oelh beberapa mahasiswa Unram tentang bisinis. Dia ada di café, tidak banyak berbicara. Sesekali dia memperhatikan apa yang saya kerjakan. Malam itu saya ingin bermain gitar menyanyikanbeberapa lagu lama. Mungkin dia memperhatikan, entahlah, semua orang bisa melihat saya, semua bisa mendengar saya bernyanyi meskipun pelan. Setelah itu, dia mainkan gitar, dan memainkan beberapa lagu lama, lagu lama yang cukup saya suka.
Hari berikutnya dia datang lagi, tidak banyak berkata. Dia sibuk dengan gadgetnya. Dia punya dunianya sendiri, apa dia begitu sepinya, dia merasa bebas dengan kesendiriannya. Beberapa kali kamibertemu kami tidak saling berkata. Saya dengan teman saya, dia dengan dunianya sendiri, sendiri saja. Saya asik bernyanyi dengan yang lainnya tapi selalu memperhatikannya, saya mulai melihatnya. Apa yang sedang dia rasakan, apa yang sedang dia pikirkan?
Hari berikutnya ia datang dengan sepedanya bersama yang lain, dia tidak pernah datang sendirian. Tiba-tiba dia duduk di sofa merah, “sebenarnya dari tadi ini yang saya butuhkan, tempat untukbersandar.” Katanya mungkin kepada saya, entahlah, dia berbicara tidak menatap siapa-siapa, hanya fokus ke gadgetnya, saya yang duduk paling dekat dengannya di sana. Saya bukan orang yang bisa berbasa-basi dan memulai duluan, saya orang yang menunggu. Sampai semua bubar, tidak ada obrolan dengannya. Saya piker biasa saja, tidak ada hal yang istimewa antara kami. Sampai pada saat tiba-tiba ia mampir, sendiri dengan sepedanya, hanya sebentar dia langsung pergi. Ada yang menunggu, katanya.

No comments:

Post a Comment