Satu
Ia
ingin melihat senja sepanjang tahun, yang kuning kemerahan, makanya hampir setiap sore ia
mengayuh sepedanya ke sana, ke pantai ampenan. Iya, hampir tiap hari kecuali
hujan deras. Senja, kenapa begitu hangat dan tenang, pikirnya. Sesekali ia ingin menjadi laut, agar selalu bisa menemani
senja. Tapi ia tetap setia, tetap begini mengagumi senja.
Sudah beberapa hari ini saya melihatnya. Sejak café
tutup, saya pikir inilah waktunya kembali ke sisi pantai, buku, dan anak-anak.
Sangat menyenangkan melihat beberapa hal sederhana namun hangat. Di pantai
ampenan, begitu tenang, angin dan ombaknya begitu tenang. Juga laut dan
senjanya. Saya melihatnya berdiri di sana menatap senja, kemudian berbalik
berjalan dan mendekat. Saya mengenalnya beberapa waktu ini, perkenalan di sisi
pantai ketika matahari sedang tenggelam, cahayanya yang remang terasa sampai ke
wajah kami, lalu turun ke hati kami. Kami berkenalan, tak ada yang istimewa,
saya lupa seperti apa dia, yang saya ingat dia sangat ramah dan menghormati saya.
Kami mengobrol, percakapan yang singkat. Saya sedang membaca resep masakan di
sebuah majalah, ia menyinggung saya, saya hampir tidak mendengarnya, saya tidak
memperhatikan, banyak orang di sana, ramai, suara-suara tenggelam di udara.
Petang mulai datang, saya harus kembali ke café. Dia
katakana dia akan mampir. Teman-teman menggoda kami tentang ucapannya kepada
saya. Dia akan ke café? Saya pikir Cuma basa-basi. Saya katakana akan
membuatkannya kopi gratis. Saya pergi, tidak memikirkan mereka lagi, tidak
memikirkan janjinya akan datang ke café.
No comments:
Post a Comment