Monday, July 27, 2015

Satu



Satu
Ia ingin melihat senja sepanjang tahun, yang kuning  kemerahan, makanya hampir setiap sore ia mengayuh sepedanya ke sana, ke pantai ampenan. Iya, hampir tiap hari kecuali hujan deras. Senja, kenapa begitu hangat dan tenang, pikirnya. Sesekali ia ingin menjadi laut, agar selalu bisa menemani senja. Tapi ia tetap setia, tetap begini mengagumi senja.
Sudah beberapa hari ini saya melihatnya. Sejak café tutup, saya pikir inilah waktunya kembali ke sisi pantai, buku, dan anak-anak. Sangat menyenangkan melihat beberapa hal sederhana namun hangat. Di pantai ampenan, begitu tenang, angin dan ombaknya begitu tenang. Juga laut dan senjanya. Saya melihatnya berdiri di sana menatap senja, kemudian berbalik berjalan dan mendekat. Saya mengenalnya beberapa waktu ini, perkenalan di sisi pantai ketika matahari sedang tenggelam, cahayanya yang remang terasa sampai ke wajah kami, lalu turun ke hati kami. Kami berkenalan, tak ada yang istimewa, saya lupa seperti apa dia, yang saya ingat dia sangat ramah dan menghormati saya. Kami mengobrol, percakapan yang singkat. Saya sedang membaca resep masakan di sebuah majalah, ia menyinggung saya, saya hampir tidak mendengarnya, saya tidak memperhatikan, banyak orang di sana, ramai, suara-suara tenggelam di udara.
Petang mulai datang, saya harus kembali ke café. Dia katakana dia akan mampir. Teman-teman menggoda kami tentang ucapannya kepada saya. Dia akan ke café? Saya pikir Cuma basa-basi. Saya katakana akan membuatkannya kopi gratis. Saya pergi, tidak memikirkan mereka lagi, tidak memikirkan janjinya akan datang ke café.

No comments:

Post a Comment