Monday, July 27, 2015

Sepuluh




Hari ini hujan deras sekali, saya kira tidak akan berhenti sampai sore. Tapi syukurlah langit sore mulai terang dan saya bersemangt membuka taman baca. Ramai sekali dan anak-anak sedang antusiasnya bermain, banyak yang berkelahi dan menangis. Saya kewalahan juga sampai bolpoin saya patah karena dimainkan anak-anak. Saya sedang mencatat buku yang sedang akan dipinjam ketika itu dia datang ke taman baca dan membunyikan bel  sepedanya keras-keras. Saya menoleh, saya tidak menyangka dia akan menyapa saya di taman baca, dia tak pernah melakukannya. Saya melihat dia begitu bersemangat sampai ngosngosan memegang dadanya dan tersenyum kea rah saya. Saya lambaikan tangan sebentar dan kembali mencatat buku yang akan dipinjam, anak-anak ramai sekali mengerubungi saya. Dia pergi. Saya fikir dia tidak akan datang sore ini karena ada kegiatan katanya kemarin.
Setelah taman baca tutup saya berkumpul dengannya bersama teman-teman yang lain di warung biasa kami berkumpul. Saya tidak banyak berkata karena jarak kami jauh. Dia banyak bercerita tentang hal-hal yang dilakukannya dulu bersama seorang teman yang sudah dia anggap lebih dari keluarga sendiri. Saya ingin mendengarnya bercerita, dia bukan orang yang akan membicarakan kejelekan orang. Kami ngobrol santai, akhirnya kami dalam posisi duduk berseblahan. Dia sering bernyanyi-nyanyi kecil dari beberapa hari kemarin. Liriknya tentang seorang gadis pendiam yang meragukan cintanya, harapannya bisa bersanding dengan gadis itu di pelaminan. Entahlah itu lagu siapa, saya baru pertaman kali mendengar lirik seperti itu. Saya tanyakan itu lagu siapa, dia hanya bilang kalau dia suka menyanyikan lagi-lagu lama. Tapi kenapa liriknya pas sekali untuk saya; gadis pendiam dan kalem. Kami pulang bersama, gerimis mulai turun.
Ketika saya berkemas memakai tas saya, dia menyebut-nyebut nama saya. Saya tidak mendengarnya jelas, seorang teman saya yang seperti adik saya sendiri sedang bermanja-manja dengannya, merangkul tangannya dan menyenderkan kepala di lengannnya. Dia katakana kepada teman saya bahwa sifat manja dan mesranya itu pasti hasil didikan saya, katanya keras-keras. Apa? Apa maksudnya? Saya bukan tipe manja dan kekanak-kanakan. Dia tidak akan tahan tidak menggoda saya setiap kali bertemu. Tapi saya katakana iya memang benar karena dia seperti adik saya. Kami berjalan bersama sepanjang terotoar di sisi pantai, dia dengan sepedanya di belakang saya sambil bernyanyi, “hai gadis cantik jangan kau ragu akan cintaku”. Apa? Itu lagu apa lagi? Memangnya ada lagu yang liriknya begitu? Teman saya yang perempuan itu bilang terimakasih sudah memanggilnya gadis cantik. Saya katakana jangan percaya, dia laki-laki penggoda wanita, ucap saya keras.

No comments:

Post a Comment