Hari
ini hujan deras sekali, saya kira tidak akan berhenti sampai sore. Tapi
syukurlah langit sore mulai terang dan saya bersemangt membuka taman baca.
Ramai sekali dan anak-anak sedang antusiasnya bermain, banyak yang berkelahi
dan menangis. Saya kewalahan juga sampai bolpoin saya patah karena dimainkan
anak-anak. Saya sedang mencatat buku yang sedang akan dipinjam ketika itu dia
datang ke taman baca dan membunyikan bel sepedanya keras-keras. Saya menoleh, saya
tidak menyangka dia akan menyapa saya di taman baca, dia tak pernah
melakukannya. Saya melihat dia begitu bersemangat sampai ngosngosan memegang
dadanya dan tersenyum kea rah saya. Saya lambaikan tangan sebentar dan kembali
mencatat buku yang akan dipinjam, anak-anak ramai sekali mengerubungi saya. Dia
pergi. Saya fikir dia tidak akan datang sore ini karena ada kegiatan katanya
kemarin.
Setelah
taman baca tutup saya berkumpul dengannya bersama teman-teman yang lain di warung
biasa kami berkumpul. Saya tidak banyak berkata karena jarak kami jauh. Dia
banyak bercerita tentang hal-hal yang dilakukannya dulu bersama seorang teman
yang sudah dia anggap lebih dari keluarga sendiri. Saya ingin mendengarnya
bercerita, dia bukan orang yang akan membicarakan kejelekan orang. Kami ngobrol
santai, akhirnya kami dalam posisi duduk berseblahan. Dia sering
bernyanyi-nyanyi kecil dari beberapa hari kemarin. Liriknya tentang seorang
gadis pendiam yang meragukan cintanya, harapannya bisa bersanding dengan gadis
itu di pelaminan. Entahlah itu lagu siapa, saya baru pertaman kali mendengar
lirik seperti itu. Saya tanyakan itu lagu siapa, dia hanya bilang kalau dia
suka menyanyikan lagi-lagu lama. Tapi kenapa liriknya pas sekali untuk saya; gadis
pendiam dan kalem. Kami pulang bersama, gerimis mulai turun.
Ketika
saya berkemas memakai tas saya, dia menyebut-nyebut nama saya. Saya tidak
mendengarnya jelas, seorang teman saya yang seperti adik saya sendiri sedang
bermanja-manja dengannya, merangkul tangannya dan menyenderkan kepala di
lengannnya. Dia katakana kepada teman saya bahwa sifat manja dan mesranya itu
pasti hasil didikan saya, katanya keras-keras. Apa? Apa maksudnya? Saya bukan
tipe manja dan kekanak-kanakan. Dia tidak akan tahan tidak menggoda saya setiap
kali bertemu. Tapi saya katakana iya memang benar karena dia seperti adik saya.
Kami berjalan bersama sepanjang terotoar di sisi pantai, dia dengan sepedanya
di belakang saya sambil bernyanyi, “hai gadis cantik jangan kau ragu akan
cintaku”. Apa? Itu lagu apa
lagi? Memangnya ada lagu yang liriknya begitu? Teman saya yang perempuan itu
bilang terimakasih sudah memanggilnya gadis cantik. Saya katakana jangan
percaya, dia laki-laki penggoda wanita, ucap saya keras.
No comments:
Post a Comment