Beberapa
hari ini saya tidak bertemu dengannya, penghabisan akhir tahun saya tidak
melihatnya. Tapi kemarin saya bertemu, di minggu pertama awal tahun ini, minggu
pertama januari. Selesai mengajar les gitar di rumah murid saya di ampenan,
saya ke pantai ampenan untuk menjaga taman baca seperti biasa. Sudah ada
seorang teman saya disana, di taman baca kami mengobrol dan ketika itu saya
mendengar bel sepeda ketika saya sedang asik membaca saya mendengarnya samar. Saya
melihatnya dengan sepedanya seperti biasa, teman saya menyapanya, mungkin dia
tidak melihat saya. Hanya sebentar
seperti biasa di berlalu, mau ngopi dulu katanya. Matahari sedang akan tenggelam
di laut pantai ampenan, indah sekali, saya selalu melihat langit kuning
keemasan, gold sunset, dan betapa hangatnya, saya suka sekali perasaan ini. Kami
akhirnya berkumpul bersama seperti biasa, saya melihatnya duduk di sana di
ujung meja. Saya bertemu teman lama saya dan ternyata temannya juga, sesame
petualang sepeda. Saya senang sekali bertemu dengan teman lama saya, dia tidak
menyanka kalau saya juga mengenal temannya itu. Dia
heran kenapa saya bisa mengenal temannya sesame petualang itu. Teman lama saya
itu dulu pernah ikut seleksi pertukaran pemuda dan saya yang menyeleksinya,
makanya dia sangat menghormati saya. Saya mengobrol banyak dengan teman lama
saya itu karena banyak cerita yang ingin saya dengar darinya, tentang
petualangannya sebagai tour leader, keliling Indonesia dengan para wisatawan
Negara lain, pasti sangat menyenangkan, saya sedikit cuekin dia. Kami mengobrol
banyak, saya memperlihatkan dia sebuah video biker terbaik dunia, Danny
Macaskill, kami menonton videonya bersama dan saya cuekin dia. Saya
mendengarnya samar ketika dia pindah duduk di depan saya dan menanyakan teman
saya yang peremepuan, menanyakan kabarnya sudah lama tidak bertemu selama
liburan akhir tahun. Dia mengatakan dia kangen, saya mendengarnya samar. Berapa
lama ya kita tidak bertemu saya kangen, katanya. Ia kita juga kangen kata teman
saya yang perempuan. Ia saya kangen, ada perasaan kangen dalm diri saya,
katanya. Saya tidak terlalu memperhatikan karna saya asik dengan teman lama
saya. Tapi saya mendengarnya cukup jelas karna ia di depan saya. Dia katakana
ketika mengobrol dengan teman perempuan saya itu bahwa dia sedang belajar
bahasa jepang, dia ingin ke jepang, dia dulu pernah bekerja dengan orang jepang
dan sempat diajarkan bahasa jepang. Ketika tahun baru kemarin temannya dari
jepang mengucapkan selamat tahun baru dalam bahasa jepang, tapi dia lupa
bagaimana membalasnya dalam bahasa jepang juga. Dia banyak mengobrol dengan
teman perempuan saya itu, saya banyak mengobrol dengan teman lama saya itu.
Akhirnya sampai pada obrolan tentang jodoh, entah bagaimana dia
menyinggung-nyinggung tentang jodoh. Dia menanyan teman saya yang perempuan
umurnya berapa mungkin punya rencana menikah, tanyanya. Saya katakana kalau
teman saya itu memang akan menikah dalam waktu dekat ini, teman saya
mengiyakan. Sayang sekali katanya, karna dia sedang mencari pasangan. Teman
saya mengatakan kalau dia sudah punya pacar dan akan menikah. Dia katakana dia
tidak pacaran, dia mau langsung menikah. Itu ada kak nisa, kata teman saya,
cocok itu katanya. Dia melihat saya, saya melihatnya. Kalian cocok, katanya.
Dia menatapa saya terus, saya memalingkan wajah dan mengataka, menikah kapan? Saya
mengajaknya sambil bercanda, dia tidak berkata dia hanya melihat saya. Dia
katakana dia tidak pacaran, saya katakana juga saya tidak pacaran tapi langsung
menikah. Dia menanyakan umur saya berapa, saya jawab umur saya 35, berbohong.
Dia serius dia ingin tahu umur saya berapa, saya katakana 25, dia langsung
bilang pas banget, dia mau menjodohkan saya dengan seorang sahabtnya yang
memang sedang mencari istri. Sahabat yang seperti saudaranya sendiri, katanya.
Dia tidak akan menikah kalau sahabatnya itu belum menikah, karna ia sudah
berjanji pada ibu sahabatnya. Saya sedikit kecewa, kenapa dia menjodohkan saya
dengan sahabtnya? Saya sedih. Kenapa dia mengatakan itu seolah dia tidak tau
apa yang saya rasakan terhadapnya, saya sedang melihatnya selama ini, tapi
mengatkan hal-hal yang sangat mengecewakan saya. Saya katakana saya dan
temannya itu seperti saudara kembar karna kami memiliki hari ulang tahun yang
sama. Saya bermaksud menolak secara halus, saya tidak memiliki perasaan apapun
kepada temannya itu, tidak ada yang istimewa. Saya jauh lebih dulu mengenal
temannya itu sebelum mengenalnya. Iya saya kecewa. Saya katakana kalau saya
memang ingin menikah. Akhir-akhir ini saya berfikir tentang pernikahan, saya
mulai serius tentang itu. Dulu saya berfikir kenapa ya orang ingin menikah? Dan
setiap orang memilki alasan yang berbeda, jelas saya. Dan saat ini saya ingin
menikah, kata saya. Dia mungkin sedikit terkesima dengan pembicaraan saya yang
tulus, saya tulus mengatakan itu, saya ingin membuka diri saya. Entah apa
alsannya menjodohkan saya dengan temannya, itu konyol sekali untuk saya. Dia
sangat sayang sahabatnya, dia dulu sempat dipanggil chevron tapi susah
memikirkan akan berpisah dengan temannya, dia kahirnya tidak jadi melihat
chevron, mungkin jodoh saya di Lombok, katanya. Temannya juga susah merubah
kebiasaan mereka tidak bersama, seperti ada sesuatu yang hilang katanya kalau
mereka tidak bersama.
Kami
mengobrol banyak tentang hubungan, dia katakana dulu dia pernah berpacaran dua
kali dalam jangka waktu yang lama. Awalnya 3 tahun dan yang terakhir tujuh
tahun, entah kenapa bisa putus, katanya. Saya selalu memposting foto senja
dengan siluet orang-orang yang sedang pecaran dan sudah menikah, sangt berbeda,
orang pacaran mesra sedangkan yang sudah menikah biasa saja, katanya. Dia tidak
suka melihat orang yang memkai jilbab tapi justru bebas dengan laki-laki, saya
orang liberal katanya, ia saya juga liberal, kata saya. Dia sedikit kaget
dengan itu, dia mngira saya golongan orng-orang yang akan memakai cadar, saya
katakana tidak, saya tidak seperti itu sama sekali, tapi saya selalu belajar
tentang islam. Saya belajar filsafat, atheis, liberal, dan Al-Quran. Kami
banyak berbicara tenang agama.
Dia sangat suka ketika melihat café saya dulu, dia dulu punya rencana untuk membangun uasaha seperti itu, penuh dengan tumpukan buku, tapi dia berfikir dia tidak terlalu suka kopi, dia tidak bisa membangun warung kopi kalau dia sendiri sedang mengurangi minum kopi. Dia tertarik dengan usaha saya, kenapa dia menawarkan saya untuk menyambut mimpinya yang belum terwujud itu, dia sedikit malu mengatakan itu, saya tersenyum saja melihatnya, orang ini konyol fikir saya, tidak bisa ditebak, apa yang ada dalam hatinya? Apa yang ada dalam fikirannya? Kenapa dia menceritakan impiannya itu dan menawarkan itu kepada saya beberapa kali dan saya masih belum bisa meresponnya karna tidak menyangka ia akan menawarkan itu, bekerja sama dengannya membangun mimpinya itu, mimpi ibunya itu ingin membuat usaha tradisional dan mendidik. Di tempat saya bukunya banyak sekali katanya, buku milik ayah saya, buku-buku tentang teknik, dia suka membaca semua buku itu. Ini sungguh aneh, fikir saya. Dia orang yang unik dana aneh. Dia terlihat ingin sekali mengajak saya benyambut tawarannya itu, dia benar-benar ingin membangun usaha itu atau ada hal lain dalam fikirannya, ingin selalu menjalin hubungan dengan saya? Entahlah, sesuatu seperti dia ingin selalu berurusan dengan saya, saya sedikit aneh dengan perasaan ini. Perasaan aneh ini seperti sebuah tawaran dia ingin mengenal saya, saya tidak melihat dia ingin mengajak saya bekerja sama dalam usahanya itu, itu sama sekali tidak terlihat begitu, usaha yang dalam bayangannya itu adalah usaha keluarga, usaha yang akan dibuatnya nanti ketika dia sudah berkeluarga, dia menyebut kata ibunya yang suka memasak, dia yang suka masakan traditional, dan jajanan traditional, dia yang suka buku-buku, entahlah, saya melihatnya seperti itu. Apa maksudnya? Itu usaha yang melibatkan keluarganya, kenapa dia menginginkan saya bergabung bersama? Saya merasa dia belum mengenal saya, saya belum mengenalnya. Apa saya salah merasakan selama ini? Apakah ketertarikannya kepada saya karna alasan rencana yang belum terwujud itu, usaha keluarga? Dia mengatakan kepada saya kenapa tidak membuat uasah di dekat amikom? Dimana itu saya bingung? Di sekitar rumahnya mungkin, rumahnya di sekitar itu katanya. Yang saya tahu di situ ada sebuah hotel kecil, hotel keluarga dan tidak ada rumah, apa dia pemilik hotel itu? Apa rumahnya di situ? Mungkin saja, dia bilang hotel kurnia jaya, disitu temapat buku-bukunya banyak tersimpan. Jalan fikirannya yang ribet dan aneh. Buku-buku ayah saya yang menumpuk, katanya. Kalau mau saya menawarkan usaha bersama, katanya bbeberapa kali dengan nada yang malu-malu seperti menurunkan gengsinya, nada yang tidak serius untuk sebuah usaha bisnis. Saya tahu seperti apa orang yang serius mengajak saya berbisnis, bukan malu-malu seperti ini dan menceritakan banyak rencana dalam hidupnya. Saya hanya tersenyum, tidak bisa menolak dan menerima dengan lasan usaha keluarga yang samar-samar, saya sangat menghargai dia percaya kepada saya.
No comments:
Post a Comment