Dia
menyapa saya ketika mata hari sudah tenggelam dan menyisahkan warna kemerahan.
Saya duduk di sampingnya, dia merasakan keberadaan saya di sampingnya. Terasa
sekali, dia tidak mengabaikan saya dan sesekali membuat alur pembicaraan yang
nyambung dengan teman-temannya yang lain. Mereka berbicara tentang bersepeda
dan snorkeling.
Saya solat seperti biasa, lalu kembali duduk di
sampingnya. Awalnya kami mengobrol tentang rokok.
Dia sedang merokok saat itu, saya menyinggungnya, dan dia mengerti perasaan
saya, dia mematikan rokoknya. Kebanyakan perempuan yang terkena kangker rahim
itu suaminya perokok. Asap rokok 3 kali lebih berbahaya untuk perokok pasif,
kata saya. Dia katakana kalau baru-baru kemarin dia mengadakan seminar tentang
kangker mulut rahim, kangker serviks. Dia katakana kalau dia orang kesehatan,
dan dia jelaskan beberapa hal tentang itu. Saya Tanya dia dulu kuliah dimana?
Dia menerangkan dulu dia kuliah radiografi dan fisioterapi. Dia banyak ambil
kuliah pendek tentang gizi dan kesehatan keselamatan kerja yang saat ini sedang
dalam pmbelajarannya. Dia jelaskan
tentang radiografi dan pertambangan yang dulu pernah dipelajari di Kalimantan.
Dia ingin bekerja di chevron, waktu itu pernah ada panggilan, katanya. Tapi
orang tuanya tidak mengijinkan. Gaji di chevron bisa membahayakan, bisa membuat
orang kalap, terangnya. Saya banyak mendengar saja, dia ceritakan tentang
bahayanya nuklir, pertambangan dan pengeboran minyak.
Lumayan
rame malam itu, banyak teman yang datang dan saya tidak mengenalnya. Teman yang
lain banyakk yang mengajaknya berbicara. Saya biarkan dia berbicara sejenak
dengan temannya, dan saya asik menikmati gitar yang sedang dimainkan seorang
teman. Seorang teman saya menelpon, teman saya itu datang untuk mengambil buku
doraemon. Dia kaget ketika melihat teman saya itu, dia tadi sempat menyapanya
ketika bersepeda sejenak di depan. Dia tidak menyangka kalau itu teman saya,
dan dia mendengar saya menelpon tadi sebelum teman saya itu melihat saya.
Ketika saya selse menelpon, dia baru menyadari “jangan-jangan yang ditelpon itu
cewek yang saya sapa tadi”, katanya.
Ujung-ujungnya
kami bernyanyi diiringi gitar. Banyak lagu yang ingin kami nyanyikan, semua
ingin menyanyikan lagu kesukaanya. Termasuk
dirinya. Gimana kalau menyanyikan lagu kesukaan saya, dia menawarkan. Dia menyanyikan lirik awalnya, dia mengajak
saya duet berdua lagu itu. Saya tebak lagu itu Endless Love. Dia mengajak saya
berduet? Saya mengiyakan. Kami menyanyikan lagu itu bersama yang lain juga.
Kenapa dia ingin menyanyikan lagu itu berdua dengan saya? Nada suaranya ketika
mengajak saya itu terdengar biasa dan normal, tapi bukan nada yang menggoda dan
sungkan. Saya suka lagu itu, sering saya nyanyikan. Kami banyak bercerita
setelah teman-teman yang lain satu-satu pulang. Obrolan yang ringan. Dia
bercerita tentang dirinya yang sulit berangkat kerja pagi-pagi. Meskipun dia
sering terlambat tetapitanggung jawab dan tugasnya tidak pernah terbengkalai.
Kami banyak bernyanyi
dan dia harus pulang karena harus beristirahat, besok dia akan bersepeda. Dia
tidak memberitahu di mana dia bekerja ketika saya mempertanyakan. Ketika dia
sudah pergi saya menanyakan ke temannya dia kerja dimana. Katanya dia kepala
radiografi di Rumah Sakit.
No comments:
Post a Comment