Monday, July 27, 2015

Sembilan




Dia menyapa saya ketika mata hari sudah tenggelam dan menyisahkan warna kemerahan. Saya duduk di sampingnya, dia merasakan keberadaan saya di sampingnya. Terasa sekali, dia tidak mengabaikan saya dan sesekali membuat alur pembicaraan yang nyambung dengan teman-temannya yang lain. Mereka berbicara tentang bersepeda dan snorkeling.
Saya solat seperti biasa, lalu kembali duduk di sampingnya. Awalnya kami mengobrol tentang rokok. Dia sedang merokok saat itu, saya menyinggungnya, dan dia mengerti perasaan saya, dia mematikan rokoknya. Kebanyakan perempuan yang terkena kangker rahim itu suaminya perokok. Asap rokok 3 kali lebih berbahaya untuk perokok pasif, kata saya. Dia katakana kalau baru-baru kemarin dia mengadakan seminar tentang kangker mulut rahim, kangker serviks. Dia katakana kalau dia orang kesehatan, dan dia jelaskan beberapa hal tentang itu. Saya Tanya dia dulu kuliah dimana? Dia menerangkan dulu dia kuliah radiografi dan fisioterapi. Dia banyak ambil kuliah pendek tentang gizi dan kesehatan keselamatan kerja yang saat ini sedang dalam pmbelajarannya. Dia jelaskan tentang radiografi dan pertambangan yang dulu pernah dipelajari di Kalimantan. Dia ingin bekerja di chevron, waktu itu pernah ada panggilan, katanya. Tapi orang tuanya tidak mengijinkan. Gaji di chevron bisa membahayakan, bisa membuat orang kalap, terangnya. Saya banyak mendengar saja, dia ceritakan tentang bahayanya nuklir, pertambangan dan pengeboran minyak.
Lumayan rame malam itu, banyak teman yang datang dan saya tidak mengenalnya. Teman yang lain banyakk yang mengajaknya berbicara. Saya biarkan dia berbicara sejenak dengan temannya, dan saya asik menikmati gitar yang sedang dimainkan seorang teman. Seorang teman saya menelpon, teman saya itu datang untuk mengambil buku doraemon. Dia kaget ketika melihat teman saya itu, dia tadi sempat menyapanya ketika bersepeda sejenak di depan. Dia tidak menyangka kalau itu teman saya, dan dia mendengar saya menelpon tadi sebelum teman saya itu melihat saya. Ketika saya selse menelpon, dia baru menyadari “jangan-jangan yang ditelpon itu cewek yang saya sapa tadi”, katanya.
Ujung-ujungnya kami bernyanyi diiringi gitar. Banyak lagu yang ingin kami nyanyikan, semua ingin menyanyikan lagu kesukaanya.  Termasuk dirinya. Gimana kalau menyanyikan lagu kesukaan saya, dia menawarkan.  Dia menyanyikan lirik awalnya, dia mengajak saya duet berdua lagu itu. Saya tebak lagu itu Endless Love. Dia mengajak saya berduet? Saya mengiyakan. Kami menyanyikan lagu itu bersama yang lain juga. Kenapa dia ingin menyanyikan lagu itu berdua dengan saya? Nada suaranya ketika mengajak saya itu terdengar biasa dan normal, tapi bukan nada yang menggoda dan sungkan. Saya suka lagu itu, sering saya nyanyikan. Kami banyak bercerita setelah teman-teman yang lain satu-satu pulang. Obrolan yang ringan. Dia bercerita tentang dirinya yang sulit berangkat kerja pagi-pagi. Meskipun dia sering terlambat tetapitanggung jawab dan tugasnya tidak pernah terbengkalai.
Kami banyak bernyanyi dan dia harus pulang karena harus beristirahat, besok dia akan bersepeda. Dia tidak memberitahu di mana dia bekerja ketika saya mempertanyakan. Ketika dia sudah pergi saya menanyakan ke temannya dia kerja dimana. Katanya dia kepala radiografi di Rumah Sakit.

No comments:

Post a Comment